Kamis, 28 Maret 2013

[Tulisan 1] Profil Wirausahawan Muda yang Sukses



 

Mata Kuliah : Softskill - Kewirausahawan
Nama            : Cipto Prasetio Sutikno
NPM             : 18611407
Kelas             : 2SA05



Successful Indonesia’s Young Entrepreneurs - Reza Nurhilman (AXL)

           Indonesia's successful young entrepreneur figure is attached to Nurhilman Reza, familiarly called as "AXL". His hard work and incredible innovation made a phenomenal product and a scene in Indonesia. Markets targeted marketing was unique and innovative, it is to keep track of the days that utilize the social networking ‘twitter’ to presence information of his products.

          Successful young businessman is the dream of many teenagers in Indonesia. Hopefully the story of Reza Nurhilman’s journey of business can inspire us all, and to burn our passion for selling in entrepreneurs. Its hopes of eventually made the creation of thousands young entrepreneurs and independent nation because we could help employment opportunities for people in Indonesia. Let's look more stories of Reza Nurhilman (AXL) to become a successful young businessman.

 

Reza Nurhilman (AXL)
Successful figure take advantage of marketing through Social Media
Biodata Owner Maicih :
1) Name                 : Reza Nurhilman
2) Nick                   : Axl
3) Date of Birth        : Bandung, 29 September 1987
4) Address               : Jl.Padaringan 40 A, Kompleks  KPAD, GegerKalong, Bandung
5) Diploma              : SMPN 1 Cimahi 2002
                               SMAN 2 Bandung 2005
                               Univ. Kristen Maranatha , Jur   Manajemen 2009





Products Profiles :
1. Spicy Chips ( level 3,5,10)
2. Fried Meatball
3. Gurilem
4. Seblak

Business Profile :
Tagline : “For Ichiher With Love“,
Maicih wants to be close to his fans, always spoiling fans throughout the archipelago with quality of the taste.

The beginning of Entrepreneurs :
·Starts in the middle of 2010
·With assets 15 million of rupiahs
·Produces 50 packs / days
·The 1st try variant was chips and grurilem
·Produced lv. 1 through lv. 5
·Marketing in roving method

Maicih Nowadays :
·Makes variant through lv. 10
·High demands of consumer
·The capacity of produce until nowadays are 2000 packs / day
·Omzet per month 800 - 900 million of rupiahs ( ± 30 million / day )
·Owns 20 general marketer
·Marketting in Djakarta, Bandung, Jogja, Surabaya, etc via generals
·Owns production employee more than 30 people

          Not even a year, this 'Devilish Chips' iconic branded snack Maicih phenomenal in Bandung. like a spellbound, this time a lot of people who are curious about this spicy snacks. The figure behind the success Maicih is Reza Nurhilman or familiarly called as Axl. This male, 23 years old is the one who invented chips recipe from a grandmother-figure. Axl meets a grandmother-figure who did have pepper crisps or chips recipe that tastes devilishly good. A grandmother-figure isn’t named Maicih. Axl himself made the name to be more eccentric and memorable to people. Grandmother-figure is identical to theicih’. She always wore ‘konde’. Her real name is not Mak Icih though, let alone so eccentric Maicih name. Axl met with The Mother took place about 3 years ago in the Cimahi area. According to Axl, The Mother does not sells the devilish chips commercially, the chips produced only at certain moments. So in 2010.

          The key to success in business done by Axl lies in how he thinks "out of the box". It does prove effective with his current venture deeply into the subject of conversation among young people. People are curious to try out what isMaicih’, heralded people on twitter. Axl successful societal because thanks to his perseverance and confidence in business he would run. Being successful is the duty and right of every person. Critical success might not come alone, but through a persistent struggle to give up. A failure is very reasonable, but the failure does not mean he's being a total failure, in fact there is a wisdom behind all of that is Success.

Marketing Strategies:

          This is the point where Maicih successfully done his marketing strategies out of the box. Axl use technology media of twitter and Facebook. Axl pursposedly made exclusive product to make people curious. He did not open a store like most sellers, but sold by the media using twitter as the location where the general (agents) maicih hung peddle his wares.

          Marketing the product is different from other Bandung unique snacks. Potential customers can only find out where Maicih haunts every day through the microblogging site twitter. Every day @InfoMaicih will let you know where the product can be obtained. Maicih marketing team called as the General, will sell Maicih products at certain locations. Starting from campus, office or other public places. In short, nothing lasts forever as a place to buy products Maicih. They are always mobile according to the position of the generals. A fairly unique way of marketing is proven to boost Maicih name in the world web of twitter. Many are curious as to Maicih because Twitter users read some treat chirps each time. And usually those who have felt this “Devilish Chips” Maicih certainly would made them “tericih-icih” alias spiciness.

          Since its launch late June 2010, the chips Maicih has become one of the hot issues and phenomenal among urban youth, especially cyberspace surfers. FYI, how to market the chips Maicih is really really different to other spicy chips - which in fact had already been circulated in Bandung. "We starts marketed three variants Maicih back then, chips, seblak, and gurilem, through networks of friends and family," said Reza Nurhilman, Owner and President Maicih Chips familiarly called Axl (read: Axel).

Senin, 07 Januari 2013

[Tulisan 5] Harapan dalam Hidup Saya



[Tulisan 5] Harapan dalam Hidup Saya


[Mata Kuliah] Softskill - Ilmu Sosial Dasar
Nama     : Cipto Prasetio Sutikno
NPM      : 18611407
Kelas      : 2SA05



          Harapan saya pribadi, saya ingin melewati setiap fase kehidupan dengan semaksimal mungkin yang saya bisa. Menjalankan tiap hal dengan sebaik-baiknya, karena itu semua akan berakibat pada masa depan saya nanti. Karena status saya sebagai mahasiswa maka saya akan berusaha menjalankan setiap kewajiban dengan semaksimal mungkin. Itu merupakan harapan jangka pendek, sedangkan harapan jangka panjang saya, saya ingin menjadi seseorang yang mandiri. Seseorang yang tidak bergantung pada orang lain, karena sangat tidak nyaman rasanya saat saya menjadi benalu bagi kehidupan orang lain, seperti yang saya rasakan saat ini, walaupun orang tersebut adalah orang tua saya sendiri.
Saya ingin menyelesaikan kuliah dengan hasil yang maksimal dan dapat hidup mandiri, sehingga tidak mengecewakan orang tua. Tentunya tidak lupa membalas orang-orang yang berjasa dalam hidup kita, walaupun mereka tidak pernah meminta.

Selanjutnya, harapan saya yaitu ingin menjalankan hari tua bersama seseorang yang bersedia mencintai saya hingga akhir. Membangun sebuah keluarga yang bahagia dan tentu saja mandiri.

Kita tidak pernah tahu harapan-harapan hidup kita akan terwujud atau tidak. Yang jelas, saya harus berusaha mewujudkan setiap harapan yang ada dalam hati dan pikiran kita yaitu dengan merencanakan hal-hal yang akan kita lakukan dan menjalankan  segala hal tersebut dengan sebaik-baiknya. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia, jika kita mau berusaha dan terus berusaha.

[Tulisan 4] Cita-cita



[Tulisan 4] Cita-cita

[Mata Kuliah] Softskill - Ilmu Sosial Dasar
Nama     : Cipto Prasetio Sutikno
NPM      : 18611407
Kelas      : 2SA05
 

            Pedang Katana.. ya, sebilah pedang panjang nan tajam dan menyeramkan itu adalah idaman saya sedari kecil.. namun, untuk apa? Sebuah pedang khas negara Sakura tersebut menjadi dambaan seorang anak ingusan yang tak bisa diam bermain kesana-kemari? “aku akan menjadi seorang samurai hebat di masa depan nanti, dan aku akan membasmi kejahatan!” angannya. Melihat teknologi zaman kini yg telah menggunakan Pistol, Senapan Mesin atau Otomatis dan sebagainya, sepertinya mustahil untuk seorang Samurai (arti; Kesatria) dapat membunuh orang lain yg menjadi musuhnya.. yaah, mau bagaimana lagi, zaman sudah terlampau instant, segalanya menjadi lebih mudah, telepon genggam, TV layar datar, meh..
            Seorang pria dengan pedang adalah sosok yang menunjukkan kebesaran, ketangguhan, keperkasaan, kegagahan serta kewibawaan, namun saat ini belum banyak orang yang memahami arti kemuliaan tersebut, saat ini banyak orang yang menyalahgunakan pedang sebagai alat yang wajib / harus digunakan untuk menyelesaikan permasalahan sepele sekalipun, hingga pada akhirnya salah satu / sekelompok diantara mereka terluka bahkan terbunuh secara sia-sia, naudzubillahimindzalik, semoga kita terhindar dari hal yang demikian.
          
           Pedang adalah benda yang menakutkan, itulah image yang kini tersebar dimasyarakat luas, perlu kita maklumi memang karena belum adanya pemahaman yang benar tentang arti sebuah pedang dimata masyarakat kita yang secara umum masih mengutamakan otot / kekerasan dibandingkan akal sehat / kedamaian, tidak seperti dinegara-negara maju lainnya (bisa dikarenakan dinegara kita banyak orang yang tidak sekolah / berpendidikan rendah serta krisis ekonomi yang melanda sehingga mempengaruhi tatanan sosial dan emosi masyarakat). Pada masa kini, di era / zaman yang damai ini, pedang seharusnya tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang menyeramkan, pedang bukanlah lagi dipakai sebagai senjata dan alat berperang.
          
           Sebagai manusia yang maju dan bermartabat (berilmu dan berpendidikan), seharusnya kita lebih arif dan bijaksana dalam berfikir. Pedang adalah sebuah karya seni, sama seperti tarian, patung, ukiran, lukisan, dan hasil seni budaya lainnya, pedang adalah hasil peninggalan budaya leluhur sejak zaman terdahulu hingga zaman mendekati modern yang dapat dinikmati keindahannya, setiap budaya dan negara menciptakan pedang (baik jenis maupun bentuk) yang berbeda-beda ; dari cara pakai, kegunaan, teknik, filosofi, dan lain sebagainya yang sangat unik dan menyenangkan untuk kita gali nilai historis / sejarahnya. Bagi kolektor dan pecinta pedang, pedang adalah sesuatu yang sangat menyenangkan untuk dicari / dikoleksi (fisiknya) dan dipelajari (ilmu / filosofinya).

Minggu, 06 Januari 2013

[Tugas 3] Tindakan Saya dalam Menjinakkan Kegelisahan

[Tugas 3]


[Mata Kuliah] Softskill - Ilmu Sosial Dasar
Nama     : Cipto Prasetio Sutikno
NPM      : 18611407
Kelas      : 2SA05


1. apa saja yg anda lakukan ketika anda merasakan kegelisahan?
Ketika saya merasakan kegelisahan saya: bermeditasi, istighfar, menenangkan diri, mengirimkan sugesti pada diri saya bahwa segalanya akan baik-baik saja.

2. apakah yg anda lakukan tersebut itu efektif / tidak? jelaskan.
Tiap-tiap orang mempunyai cara berbeda dalam menenangkan diri mereka, namun menurut saya pribadi cara yg saya tuliskan di atas sangat efektif, karena jika tidak menenangkan diri seperti yg saya lakukan di atas otot-otot saraf akan menegang, jantung berdebar makin cepat, perasaan malahl akan semakin gelisah dan hal tersebut sangat tidak baik untuk saraf & tubuh. Maka positive thinking lah ketika ada hal-hal yg membuat gelisah, tenangkan diri, relax, dan tersenyum karena Tuhan tidak memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-hamba-Nya.

Jumat, 09 November 2012

[Tulisan 3] Kisah Seorang Pengusaha

[Tulisan 3] Karangan berbentuk Diary
[Mata Kuliah] Softskill - Ilmu Sosial Dasar
Nama     : Cipto Prasetio Sutikno
NPM      : 18611407
Kelas      : 2SA05




Lulusan STM bangunan ini mengawali bisnisnya hanya dengan dua gerobak. Kini, ia memiliki 10 pabrik dan 2.000 outlet Edam Burger yang tersebar di seluruh Indonesia. Segalanya tentu tak mudah diraih. Bahkan, ia pernah menjalani hidup yang keras di Jakarta.
 (Di rumah mungil di kawasan Perumnas Klender, Jakarta Timur, belasan pegawai berkaus merah kuning terlihat sibuk. Roti, daging, sosis, hingga botol-botol saus kemasan bertuliskan Edam Burger disusun rapi dalam wadah-wadah plastik siap edar. Seorang lelaki bercelana pendek berhenti bekerja, lalu keluar menyambut NOVA.Pembawaannya sederhana, tak ubahnya seperti pegawai lain. Sambil tersenyum hangat, ia pun memperkenalkan diri. “Aduh maaf, ya, saya tidak terbiasa rapi, hanya pakai oblong dan celana pendek,” tutur Made Ngurah Bagiana, sang pemilik Edam Burger. Beberapa saat kemudian, Made bercerita.)
Terus terang, saya suka malu dibilang pengusaha sukses yang punya banyak pabrik dan outlet. Bukan tidak mensyukuri, tapi saya hanya tak mau dicap sombong. Saya mengawali semua usaha ini dengan niat sederhana: bertahan hidup. Makanya, sampai sekarang saya ingin tetap menjadi orang yang sederhana. Sesederhana masa kecil saya di Singaraja, Bali.
Orang tua memberi saya nama Made Ngurah Bagiana. Saya lahir pada 12 April 1956 sebagai anak keenam dari 12 bersaudara. Sejak kecil, saya terbiasa ditempa bekerja keras. Malah kalau dipikir-pikir, sejak kecil pula saya sudah jadi pengusaha. Bayangkan, tiap pergi ke sekolah, tak pernah saya diberi uang jajan. Kalau mau punya uang, ya saya harus ke kebun dulu mencari daun pisang, saya potong-potong, lalu dijual ke pasar.
Menjelang hari raya, saya pun tak pernah mendapat jatah baju baru. Biasanya, beberapa bulan sebelumnya saya memelihara anak ayam. Kalau sudah cukup besar, saya jual. Uangnya untuk beli baju baru. Lalu, sekitar usia 10 tahun, saya harus bisa memasak sendiri. Jadi, kalau mau makan, Ibu cukup memberi segenggam beras dan lauk mentah untuk saya olah sendiri.


PENSIUN JADI PREMAN
Begitulah, hidup saya bergulir hingga menamatkan STM bangunan tahun 1975. Bosan di Bali, saya pun merantau ke Jakarta tanpa tujuan. Saya menumpang di kontrakan kakak sayadi Utan Kayu. Untuk mengisi perut, saya sempat menjadi tukang cuci pakaian, kuli bangunan, dan kondektur bis PPD.
Kerasnya kehidupan Jakarta, tak urung menjebloskan saya pada kehidupan preman. Bermodal rambut gondrong dan tampang sangar, ada-ada saja ulah yang saya perbuat. Paling sering kalau naik bis kota tidak bayar, tapi minta uang kembalian.
(Sambil berkisah, Made terbahak tiap mengingat pengalaman masa lalunya. Berulang kali ia menggeleng, lalu membenarkan letak kacamatanya).
Toh, akhirnya saya pensiun jadi preman. Gantinya, saya berjualan telur. Saya beli satu peti telur di pasar, lalu diecer ke pedagang-pedagang bubur. Ternyata, usaha saya mandeg. Saya pun beralih menjadi sopir omprengan. Bentuknya bukan seperti angkot ataupun mikrolet zaman sekarang, masih berupa pick-up yang belakangnya dikasih terpal. Saya menjalani rute Kampung Melayu – Pulogadung – Cililitan.
Tahun 1985, saya pulang ke kampung halaman. Pada 25 Desember tahun itu, saya menikah dengan perempuan sedaerah, Made Arsani Dewi. Oleh karena cinta kami bertaut di Jakarta, kami memutuskan kembali ke Ibu Kota untuk mengadu nasib. Kami membeli rumah mungil di daerah Pondok Kelapa. Waktu itu saya bisnis mobil omprengan. Awalnya berjalan lancar, tapi karena deflasi melanda tahun 1986-an, saya pun jatuh bangkrut. Kerugian makin membengkak. Saya harus menjual rumah dan mobil. Lalu, saya hidup mengontrak.


NYARIS TERSAMBAR PETIR

         Titik cerah muncul di tahun 1990. Saya pindah ke Perumnas Klender. Tanpa sengaja, saya melihat orang berjualan burger. Saya pikir, tak ada salahnya mencoba. Saya nekad meminjam uang ke bank, tapi tak juga diluluskan. Akhirnya saya kesal dan malah meminjam Rp 1,5 juta ke teman untuk membeli dua buah gerobak dan kompor.
Bahan-bahan pembuatan burger, seperti roti, sayur, daging, saus, dan mentega, saya ecer di berbagai tempat. Dibantu seorang teman, saya menjual burger dengan cara berkeliling mengayuh gerobak. Burger dagangannya saya labeli Lovina, sesuai nama pantai di Bali yang sangat indah.
Banyak suka dan duka yang saya alami. Susahnya kalau hujan turun, saya tak bisa jalan. Roti tak laku, Akhirnya, ya, dimakan sendiri. Masih untung karena istri saya bekerja, setidaknya dapur kami masih bisa ngebul. Pernah juga gara-gara hujan, saya nyaris disambar petir. Ketika itu saya tengah memetik selada segar di kebun di Pulogadung. Tiba-tiba hujan turun diiringi petir besar. Saya jatuh telungkup hingga baju belepotan tanah. Rasanya miris sekali.
Di awal-awal saya jualan, tak jarang tak ada satu pun pembeli yang menghampiri, padahal seharian saya mengayuh gerobak. Mereka mungkin berpikir, burger itu pasti mahal. Padahal, sebenarnya tidak. Saya hanya mematok harga Rp 1.700 per buah. Baru setelah tahu murah, pembeli mulai ketagihan. Dalam sehari bisa laku lebih dari 20 buah.
Untuk mengembangkan usaha, saya mengajak ibu-ibu rumah tangga berjualan burger di depan rumah atau sekolah. Mereka ambil bahan dari saya dengan harga lebih murah. Sungguh luar biasa, upaya saya berhasil. Dalam dua tahun, gerobak burger saya beranak menjadi lebih dari 40 buah. Saya pun pensiun menjajakan burger berkeliling dan menyerahkan semua pada anak buah.
Tak berhenti sampai di situ, tahun 1996 saya mencoba membuat roti sendiri dan membuat inovasi cita rasa saus. Seminggu berkutat di dapur, hasilnya tak mengecewakan. Saya berhasil menciptakan resep roti dan saus burger bercita rasa lidah orang Indonesia. Rasanya jelas berbeda dengan burger yang dijual di berbagai restoran cepat saji.

Rabu, 07 November 2012

[Tulisan 2] Aku Adalah Sang Pecinta Alam

[Tulisan 2] Puisi bertemakan 'Cinta Kasih'
[Mata Kuliah] Softskill - Ilmu Sosial Dasar
Nama     : Cipto Prasetio Sutikno
NPM      : 18611407
Kelas      : 2SA05

Ya aku adalah seorang pencinta alam, dan semua yang kau tuduhkan itu benar.
Aku adalah lelaki pengejar sepi dan penghindar kesepian.
Aku senang menciptakan kenangan.
Senang bekerja keras sekaligus senang bermalas malasan.
Itu semua benar adanya.

Mengenai kesukaanku pada api unggun, ketinggian, mengecup cantiknya suasana alam,
persaudaraan, kopi yang airnya dididihkan di atas perapian, bercengkerama di dalam tenda,
aku juga tidak hendak menyangkalnya.
Semua itu berbanding sempurna dengan kecintaanku pada korek api dan beberapa alat survival kit.

Tapi kau terlalu mengada ada jika menganggap aku sebegitunya membenci para politisi.
Bukan.. tidak seperti itu.
Aku memang sama sekali tidak respek pada intrik, manipulasi, senyum palsu, dan segala hal yang sepadan dengan itu.
Bukan berarti aku anti politik.
Bukan pula aku membabi buta membenci segala hal yang berbau pergerakan politik.

Itu tidak penting. Dengan kata lain, ada yang lebih penting dari itu.

Survive melakoni hidup dengan mengikuti kemana hati membawa, begitulah seharusnya menjadi pencinta alam.
Meskipun ada yang berkata, hidup dengan cara mengikuti hati nurani hanya akan membawa kita pada dua hal.
Jika tidak berujung pada kebahagiaan maka dia akan gila. Dan aku menerima resiko itu dengan segala cinta.

Hanya karena aku pencinta alam, bukan berarti aku tidak bisa memberimu sekuntum edelweiss.
Tapi apakah itu mungkin? Puncak rengganis pun mengerti jika sekuntum edelweiss itu adalah dirimu.

Selamat mengecup Bumi tercinta..